MBUHRANGERTI BLOG'S

Berjalan Setapak Demi Setapak

Merenungkan Makna Kepemilikan

Oleh: Komaruddin Hidayat*

Sewaktu kecil, nenek sering mendongeng, yang hingga sekarang masih banyak yang saya ingat. Di antaranya tentang kehebatan Nabi Sulaiman yang bisa berbicara dengan hewan dan tumbuh-tumbuhan. Setiap Nabi Sulaiman jalan-jalan masuk kebun, tutur nenek, pepohonan pada mengucapkan salam dan memperkenalkan diri padanya. “Nabi Sulaiman, saya pohon jeruk. Lihat di tubuhku bergelantungan buah jeruk yang manis-manis. Saya sangat gembira kalau Nabi Sulaiman sudi memetik dan memakannya, atau dibagi kepada teman-teman. Aku diciptakan Allah untuk melayani manusia,” demikian kata pohon jeruk. Begitu halnya dengan pohon-pohon yang lain, semuanya memperkenalkan diri dan menyatakan kegembiraannya kalau manusia mau menyayangi dan mengambil manfaat dari kehadiran mereka untuk kesejahteraan manusia.

Cerita tadi begitu membekas dalam hati saya. Bahwa manusia merupakan puncak ciptaan Allah SWT, dan semesta ini ditundukkan untuknya sehingga manusia diberi gelar khalifatullah atau mandataris Allah di muka bumi. Hanya saja harus kita ingat bahwa aktivitas seorang mandataris harus sejalan dengan kehendak yang memberi mandat. Tidak boleh mengkhianati, tidak boleh keluar dari pedoman pokok yang digariskan Allah. Oleh karena itu manusia juga disebut abdullah yang harus selalu berislam, tunduk dan patuh terhadap ajaran-Nya.

Pepohonan tadi merasa dirinya berharga dan telah melaksanakan tugas dengan baik justru di saat bisa memberikan prestasi puncaknya pada orang lain. Sikap dan orientasi memberi serta melayani (giving and serving oriented) merupakan sumber kebahagiaan dan puncak prestasi kehidupan. Begitu juga halnya dengan kehidupan manusia. Orangtua merasa sukses ketika bisa memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Pemimpin yang dianggap sukses bukannya yang kaya raya karena canggih melakukan korupsi, melainkan justru mereka yang siap hidup sederhana karena ingin memberikan seluruh potensi dan keunggulannya untuk rakyat dan bangsa.

Ilmuwan yang dikenang sejarah adalah mereka yang menyumbangkan ilmunya untuk kemanusiaan. Orang kaya yang dikagumi adalah mereka yang dengan hartanya mewariskan amal kebajikan untuk menolong dan memajukan masyarakat. Demikianlah, sebagaimana cerita pepohonan tadi yang senantiasa kecewa kalau buah, daun, dan dahannya tidak mendatangkan manfaat pada manusia, maka kehidupan manusia pun mestinya meniru dunia flora. Bahwa sesungguhnya apapun yang kita miliki belum punya makna kalau belum mendatangkan manfaat bagi orang lain untuk sama-sama menegakkan kalimah Allah.

Suatu hari sahabat Ali bertanya pada muridnya. “Kalau di tangan saya ada uang sepuluh dirham, lalu saya sedekahkan tiga dirham, berapa sisa uang saya?” Muridnya menjawab, “Masih tujuh dirham.” “Salah!” sahut Ali. “Yang benar uang saya masih tiga dirham, karena apa yang saya sedekahkan itulah yang sudah pasti tercatat sebagai amal shalih, sedangkan selebihnya belum pasti.” Demikianlah, dialog ini memberi pelajaran sangat dalam bahwa apa yang kita miliki adalah apa yang sudah kita belanjakan di jalan kebaikan, bukannya apa yang kita simpan.

Jika logika di atas kita ikuti, maka mereka yang merasa memiliki kekayaan dan kepintaran belum tentu mereka “memiliki” karena belum “melekat” dan belum “tercatat” dalam buku amal shalih sebelum dimanfaatkan menurut petunjuk Allah, Sang Pemilik sejati semesta ini. Lebih dari itu, mereka yang memiliki deposito milyaran, misalnya, tetapi nyatanya masih mau korupsi, maka sesungguhnya mereka itu tergolong orang yang miskin dan pantas dikasihani dan diingatkan. Ketika orang sibuk mengumpulkan harta, lalu hartanya hanya dipeluk dan dibanggakan, tetapi tidak “ditaklukkan” untuk sarana amal shalih, maka perasaan bahwa dirinya kaya adalah perasaan semu. Oleh karena itu agar apa yang kita miliki menjadi abadi, Rasulullah mengajarkan agar seseorang ketika meninggal hendaknya mewariskan ilmu yang bermanfaat bagi kemanusiaan, harta kekayaan yang dibelanjakan untuk kesejahteraan umat, dan anak ataupun generasi yang shalih. Ketiga warisan itulah yang membuat seseorang panjang umur, sekalipun orang itu telah meninggal. Umur artinya produktivitas dan kemakmuran yang tetap memberikan pahala atau dividen kebajikan sekalipun seseorang telah dinyatakan almarhum.

Dalam Al-Qur’an surat Al-Humazah Allah memperingatkan, mereka yang sangat mencintai dunia dan menumpuk kekayaan lalu sibuk menghitung-hitungnya, dan mengira bahwa kekayaannya itu akan membuat dirinya hidup abadi, sungguh dalam kesesatan dan kerugian. Yang membuat hidup abadi dan mulia bukannya bangunan patung dan sederet titel serta kekayaan, melainkan iman dan amal shalih yang difasilitasi oleh ilmu dan hartanya.

* Penulis adalah Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Alumni ESQ Eksekutif Angkatan 20. Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Nebula (ESQ Magazine) edisi cetak No. 12/Tahun I/2005

Single Post Navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: