MBUHRANGERTI BLOG'S

Berjalan Setapak Demi Setapak

Catatan Piala Dunia – Ghana dan Mimpi-mimpi Nkrumah

Beritabola.com Jakarta – Memang sudah tiba saatnya bagi Ghana untuk menyelamatkan kehormatan sepakbola Afrika. Satu-satunya penyesalan, barangkali, karena Kwame Nkrumah tak bisa menyaksikan Ghana menjelma jadi kekuatan besar di Afrika setelah kembali berhasil mencapai babak 16 besar Piala Dunia.
Afrika diwakili enam tim, tapi empat di antaranya sudah tersingkir. Afrika Selatan bahkan jadi tuan rumah satu-satunya sepanjang sejarah Piala Dunia yang tersingkir di babak grup. Pantai Gading masih punya peluang lolos, tapi kemenangan telak Portugal atas Korea Utara membuat Drogba, dkk., membuat urusan Pantai Gading jadi lebih ribet dan ruwet, untuk tidak menyebutnya mustahil.

Ini situasi yang sukar bagi sepakbola Afrika. Harapan akan prestasi tinggi sepakbola Afrika yang sudah dirajut Oman Biyik, Roger Milla, dkk., pada 1990 terancam kandas justru saat Afrika bermain di kampung halamannya sendiri.

Kita masih ingat bagaimana Kamerun melaju hingga ke perempat final Piala Dunia 1990. Itulah momen pencerahan dan kebangkitan sepakbola Afrika. “Inilah saat orang mengerti bahwa kami bukan gorila yang bergelayutan di pohon-pohon,” seru Oman Biyik dengan nada yang sungguh telengas dan penuh rasa sengit atas masa silam Afrika yang suram dan masih saja terus dilimpahi stereotipe yang tak enak dan menusuk.

Saat itu, untuk pertama kalinya pula dunia memberi apresiasi besar bagi Afrika sebagai kekuatan baru sepakbola dunia, jauh lebih besar tinimbang saat Aljazair mengandaskan Jerman Barat di laga pembuka 1982. Surat kabar yang berbasis di Roma, Il Tempo, bahkan berani bernubuah: “Di masa mendatang, Afrika merupakan harapan besar yang menggembirakan.”

Di level yunior, Afrika menjadi juara sudah tak mengejutkan. Sudah tak terhitung pemain Afrika yang menjadi tumpuan klub-klub besar di Eropa. Tapi nubuah Il Tempo di atas, pasti tidak dimaksudkan untuk prestasi individual atau level junior, melainkan di Piala Dunia, altar paling agung dari “agama” sepakbola.

Justru di situlah soalnya. Nubuah Il Tempo itu, hingga kini, belum pernah menemui revelasinya. Prestasi Kamerun 20 tahun silam (juga Senegal pada 2002) masih menjadi yang tertinggi bagi sepakbola Afrika.

Asia, yang dianggap masih ketinggalan dari Afrika, malah sudah mencicipi semifinal pada Piala Dunia 2002. Tim Asia pula (Jepang dan Korea Selatan) yang kali ini ikut andil menyingkirkan dua tim Afrika (Kamerun dan Nigeria), belum terhitung apa yang akan terjadi dengan Pantai Gading yang akan berhadapan dengan Korea Utara.

Maka bisa dimengerti jika Suley Muntari, beberapa saat usai kepastian lolosnya Ghana, langsung mencoba menyalakan api solidaritas Afrika dengan dengan mengatakan: “Malam ini Afrika berbahagia. Saya harap mayoritas warga Afrika Selatan akan terus mendukung kami ….”

Api itu juga yang puluhan tahun silam sudah dinyalakan oleh seorang putra Ghana, salah satu warga Afrika yang paling termasyhur: Dr. Kwame Nkrumah.

Nkrumah berjasa besar memerdekakan Ghana pada 1957. Selanjutnya ia mendorong negara-negara Afrika lainnya untuk memperjuangkan kemerdekaannya sendiri. Ia juga yang mewedarkan visi Pan-Afrikan yang mengincar cita-cita bersatunya Afrika.

Bagi bangsa Ghana, Nkrumah adalah bapak bangsa, barangkali seperti Soekarno bagi Indonesia. Bukan kebetulan pula jika keduanya bersahabat dan bahu membahu membangkitkan semangat negara-negara Dunia Ketiga dengan membikin Konferensi Asia Afrika pada 1955. Keduanya juga harus menghabiskan sisa hidupnya dalam pengasingan politik yang rudin dan pedih sampai ajal menjemput.

Tapi Nkrumah bukan hanya omong-omong dan berurusan politik. Ia juga bicara tentang sepakbola dan berbuat banyak hal penting dalam sejarah kebangkitan sepakbola Afrika. Dia menjadi salah satu pendiri The Confederation of African Footbal (CAF), asosiasi sepakbola yang membawahi negara-negara di Afrika. Dia juga berandil besar dalam sejarah Liga Champions Afrika, termasuk dengan menyumbang uang dari koceknya sendiri pada 1964.

Dengan ucapan khas seorang orator, Nkrumah berkata: “Saya yakin kompetisi ini akan menambah kematangan sepakbola Afrika dan mendorong benua kita yang tercinta ini ke era yang gemilang penuh cahaya… membawa benua kita yang tercinta ini mendapatkan kehormatan dan pengakuan yang lebih besar dari dunia.”

Dengan berkali-kali mengatakan “benua kita yang tercinta” (“our dear continent”) saat bicara tentang sepakbola, Nkrumah tidak hanya sedang menyatakan cintanya yang kukuh pada Afrika, tapi juga sedang berusaha memastikan bahwa kemajuan sepakbola Afrika bisa menjadi simbol kemajuan Afrika.

Dia mengirim eks-pemain nasional Ghana, termasuk Charles Gyamfi, untuk belajar ilmu kepelatihan ke Eropa agar bisa membentuk tim nasional Ghana yang tangguh. Jangan heran jika Ghana bisa menggondol Piala Afrika pada 1963.

Itu sebabnya, agak mengherankan jika Ghana baru bisa ikut di Piala Dunia pada 2006 silam, ketinggalan jauh ketimbang Nigeria, Senegal dan Kamerun. Terlebih Ghana punya prestasi tak main-main di level yunior. Mereka sudah dua kali mencicipi gelar juara dunia U-17 pada 1991 dan 1995 serta sekali juara dunia U-20 pada 2009 kemarin.

Jika Piala Dunia 2010 ini Ghana kembali harus menjadi satu-satunya wakil Afrika di babak 16 besar, seperti empat tahun lalu di Piala Dunia 2006, anggaplah ini sebagai persembahan bagi Nkrumah. Dan memang sudah saatnya bagi Ghana. Itu pula yang dikatakan oleh juru bicara tim nasional Ghana saat merebut gelar juara dunia U-20 setahun lalu, tepat saat perayaan 100 tahun Nkrumah. Katanya, “Inilah persembahan paling pas bagi Nkrumah. Ini adalah penampilan patriotik yang menyatukan visi dan misi Nkrumah bagi Ghana dan Afrika.”

Anda boleh sinis saat sepakbola dikait-kaitkan dengan sebuah visi politik. Tapi, diakui atau tidak, Piala Dunia tak akan pernah bisa lepas dari itu. Perayaan nasionalisme adalah lencana yang membuat Piala Dunia punya daya pukau yang mencengkau. Itu sebabnya lagu nasional jadi pembuka yang wajib ada di setiap pertandingan. Tanpa itu, greget Piala Dunia bisa dipastikan hanya selevel gregetnya dengan Liga Champions antarklub.

Bagi Afrika sendiri, mungkin masih menyedihkan jika hanya Ghana satu-satunya tim Afrika yang lolos saat Piala Dunia justru sedang dihelat di tanahnya sendiri. Tapi justru karena itu pula Ghana tak boleh kalah dari Amerika Serikat di babak 16 besar nanti.

Mengalahkan Amerika di lapangan ekonomi atau politik mungkin butuh puluhan atau ratusan tahun, tapi dalam sepakbola ambisi itu hanya berjarak 90 menit saja. Untuk itulah Nkrumah ikut andil mendirikan CAF dan mendorong tergelarnya Liga Champions Afrika. Dan demi itu pula Nkrumah berkali-kali menyebut “benua kita yang tercinta” (“our dear continent”) saat ia sebenarnya hanya sedang berbicara tentang sepakbola.

Ya, karena sepakbola bukan sekadar permainan, ia juga sebuah kisah, bahkan bisa menjadi sebuah epik nasional yang mungkin saja akan dirayakan oleh seisi benua.

Zen Rachmat Sugito*
==

*) Penulis adalah pemerhati sepakbola, editor Boekoe Jakarta. Tulisan ini bersifat opini pribadi dan tidak mencerminkan sikap redaksi.

Keterangan foto: (Atas) Pemain Ghana John Paintsil mengibarkan bendera negaranya setelah The Black Stars lolos ke babak 16 besar (Getty Images). (Tengah) Kwame Nkrumah (zazzle.com) (dtc/a2s)

Single Post Navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: